Tentara AS menggunakan HUMVEE (Multipurpose Wheeled Vehicle) sebagai kendaraan militer. Sebuah jeep modern serbaguna berpenggerak empat roda dengan transmisi otomatis dan tenaga mesin diesel yang digunakan membuat HUMVEE mampu melewati semua medan jalan yang ada diberbagai belahan dunia.


Sebagai Jeep serbaguna, HUMVEE mengalami konfigurasi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Kendaraan tersebut digunakan sebagai sarana mobilitas personil dan peralatan, ambulan, kendaraan bersenjata, kendaraan operasi psikologis serta banyak lagi fungsi lain yang melibatkan HUMVEE.
Standar Armor yang diterapkan membuat HUMVEE mampu memberikan perlindungan lebih baik dari Jeep lain. Bahkan HUMVEE diklaim tidak akan tertembus oleh tembakan peluru AK-47 dan mampu bertahan dari serangan RPGs (Rocket Propelled Grenades).
Kontroversi kemudian mucul saat manghadapi taktik perang gerilya yang dilakukan pejuang Irak. Vehicle Borne Improvised Explosive Devices (VBIEDs) yang digunakan untuk melakukan pembalasan mampu merusak bahkan menghancurkan sejumlah HUMVEE dan membunuh cukup banyak tentara AS.
Jika Militer AS berencana melakukan perang kota yang telah berlangsung selama beberapa dekade dengan mengandalkan HUMVEE sebagai kekuatan tempur, kemungkinan tidak akan pernah cukup menuntaskan persoalan.
HUMVEE tidak pernah dirancang untuk bertempur di garis depan, meskipun terdapat varian weapons platform yang digunakan untuk penyisiran di garis depan tetap hanya sebagai overwatch maupun persenjataan standoff. Armor HUMVEE didesain untuk perlindungan terhadap serangan tidak langsung dari serpihan altileri atau mortir serta peluru dari type senjata kaliber AK-47 yang ditembakan dari jarak cukup jauh.

Standar Armor yang diterapkan membuat HUMVEE mampu memberikan perlindungan lebih baik dari Jeep lain. Bahkan HUMVEE diklaim tidak akan tertembus oleh tembakan peluru AK-47 dan mampu bertahan dari serangan RPGs (Rocket Propelled Grenades).
Kontroversi kemudian mucul saat manghadapi taktik perang gerilya yang dilakukan pejuang Irak. Vehicle Borne Improvised Explosive Devices (VBIEDs) yang digunakan untuk melakukan pembalasan mampu merusak bahkan menghancurkan sejumlah HUMVEE dan membunuh cukup banyak tentara AS.
Jika Militer AS berencana melakukan perang kota yang telah berlangsung selama beberapa dekade dengan mengandalkan HUMVEE sebagai kekuatan tempur, kemungkinan tidak akan pernah cukup menuntaskan persoalan.
HUMVEE tidak pernah dirancang untuk bertempur di garis depan, meskipun terdapat varian weapons platform yang digunakan untuk penyisiran di garis depan tetap hanya sebagai overwatch maupun persenjataan standoff. Armor HUMVEE didesain untuk perlindungan terhadap serangan tidak langsung dari serpihan altileri atau mortir serta peluru dari type senjata kaliber AK-47 yang ditembakan dari jarak cukup jauh.

Pertempuran Irak tidak terdapat garis depan, seluruh area merupakan zona pertempuran. Penggunaan HUMVEE yang cukup banyak oleh militer AS sangat tidak tepat karena tidak pernah dirancang untuk kondisi tersebut. Pasukan kemudian menambah lapisan armor pada HUMVEE yang sebenarnya tidak dirancang pula untuk beban yang cukup berat dari lapisan armor tambahan yang sering terdiri dari ribuan pon baja yang memberatkan chasis kendaraan.
Akibat kelebihan beban akan muncul masalah saat HUMVEE digunakan karena keausan yang dialami komponen mekanik terjadi jauh lebih cepat. Kemungkinan yang terjadi kemudian adalah munculnya kecelakaan yang tidak diakibatkan dari perang menghadapi taktik gerilya.
Kontroversi penggunaan HUMVEE di Iraq tidak berkaitan dengan masalah ketersediaan kendaraan. Masalah yang terjadi adalah ketergantungan menggunakan HUMVEE yang berlanjut hingga dimulainya operasi Irak ketika sarana kendaraan lain yang lebih handal seharusnya digunakan seperti Stryker, Bradley, Abrams tank, maupun kendaraan lain.
Selama beberapa dekade AS telah merancang peralatan militer bermobilitas tinggi dan memiliki respon cepat. Militer AS telah memiliki kendaraan armor yang lebih simple sehingga mudah diangkut dengan pesawat terbang maupun peralatan lain seperti Army’s Stryker yang didesain dapat diangkut C-130s.
Sebagai penyelesaian atas kondisi yang terjadi di Irak, militer AS tengah melakukan penggantian HUMVEE sebanyak mungkin di Irak dengan kendaraaan Mine Resistant Ambush Protected (MRAP) yang baru, dan proses tersebut cukup memakan waktu dan biaya yang besar.
Akibat kelebihan beban akan muncul masalah saat HUMVEE digunakan karena keausan yang dialami komponen mekanik terjadi jauh lebih cepat. Kemungkinan yang terjadi kemudian adalah munculnya kecelakaan yang tidak diakibatkan dari perang menghadapi taktik gerilya.
Kontroversi penggunaan HUMVEE di Iraq tidak berkaitan dengan masalah ketersediaan kendaraan. Masalah yang terjadi adalah ketergantungan menggunakan HUMVEE yang berlanjut hingga dimulainya operasi Irak ketika sarana kendaraan lain yang lebih handal seharusnya digunakan seperti Stryker, Bradley, Abrams tank, maupun kendaraan lain.
Selama beberapa dekade AS telah merancang peralatan militer bermobilitas tinggi dan memiliki respon cepat. Militer AS telah memiliki kendaraan armor yang lebih simple sehingga mudah diangkut dengan pesawat terbang maupun peralatan lain seperti Army’s Stryker yang didesain dapat diangkut C-130s.
Sebagai penyelesaian atas kondisi yang terjadi di Irak, militer AS tengah melakukan penggantian HUMVEE sebanyak mungkin di Irak dengan kendaraaan Mine Resistant Ambush Protected (MRAP) yang baru, dan proses tersebut cukup memakan waktu dan biaya yang besar.
Menghadapi perang kota yang terjadi sesuai gambaran di Iraq, AS nantinya harus membuat varian HUMVEE yang baru sebagai kendaraan yang didesain khusus untuk menghadapi pertempuran sulit lebih lagi pertempuran di dalam kota. Suatu kendaraan yang super armor dan sangat kuat sehingga mampu menangkis senjata tank dan serangan dari segala penjuru. Kendaraan model tersebut mungkin akan lebih besar dan berat dibanding Abrams juga menghabiskan lebih banyak bahan bakar dan tentu saja harus dapat diangkut dengan mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar